Akhir Kisah Cinta yang Rumit

perahu

Hari yang kau tunggu tiba. Kau berkemas menemuinya dengan aneka perasaan yang tak dapat kau ungkapkan dalam kata. Sekeping hati yang telah patah tiba-tiba menyembulkan rasa nyeri. Namun sebentuk rindu yang membuncah untuk sekadar melihat sosok pria yang pernah mengisi pelangi dalam setahun kebersamaan dengannya tak dapat kau pungkiri. Mungkin karena cinta pertama dan sejatimu memang tak pernah mati. Meski telah kau lepaskan semua rasa di samudra luas membentang agar larut bersama garam dan mineral di dalamnya. Meski telah kau timbun dalam bumi agar ia berinkarnasi menjadi tunas dalam bentuk yang sama sekali baru hingga kau tak pernah mengenalnya lagi. Namun benarlah kata orang. Bahwa cinta itu rumit. Pilihanmu adalah, berdamai dengan masa lalu. Dan menjaga rasa itu tetap di tempatnya. Karena ketika kau berusaha membuangnya, seketika itu pula ia kembali hadir di pelupuk mata.

Kopi. Sesungguhnya kau bukan peminum kopi. Tapi memang kedai kopi adalah pilihan paling tepat untuk sebuah ruang yang mampu menampung segala perbincangan. Tempat yang pas untuk temu kangen, diskusi seputar usaha, kopi darat dua orang sahabat maya. Juga adalah tempat meluruskan segala prasangka dan pertikaian yang pernah ada, dan sebagainya. Itulah imajinasimu tentang Kedai Kopi yang pasti telah menjadi saksi bisu atas berbagai peristiwa penting di dunia.  Jadi jika ada sebagian orang mengatakan menjamurnya kedai kopi sekadar ‘life style’, gaya hidup peradaban ini, meskipun mungkin ada benarnya, tapi tidak mutlak benar menurut kaca pandangmu.

Ya, kebenaran itu memang tak pernah bersifat mutlak. Dan kesalahan pun pastinya demikian. Ataukah itu caramu memaafkan dia yang amat kau kasihi? Bahwa kesalahan mayor pria yang telah pergi dari kehidupanmu dengan ‘cara sadis’ menduakanmu tepat di hari bersejarahmu pun adalah bukan kesalahan mutlaknya? Kau pun berperan di dalamnya karena kelalaian dan ketidakwaspadaanmu sendiri? Karena kau telah mengijinkannya pergi? Entahlah… Kau akhirnya berpikir bahwa kebenaran hanyalah milik Rabb-mu.

Sutradara dari semua realita yang terjadi di dunia yang menembus hingga alam sana. Alam yang kau yakini sepenuhnya bahwa itu ada.

***

Pertemuanmu dengannya berjalan sempurna. Jabat tanganmu dengannya serupa lembaran baru yang terbuka seketika. Usia telah menyulap rambut hitam ikalnya menjadi keperakan lebih dari sepertiga bagiannya. Namun kharisma di wajahnya tak pernah berkurang sedikitpun juga. Pendampingmu hari ini memang tampan dan rupawan, namun daya tarik mantan priamu kau akui tak pernah bergeser. Meski demikian, kau menyadari bahwa cinta adalah komitmen. Dan komitmenmu adalah menjadikan pria penggantinya sebagai pria terbaik yang ingin terus kau jaga hatinya hingga akhir masa. Kebaikan dan cinta yang telah menjadikanmu bertahan hidup dengan limpahan kasihnya adalah rizki yang tak kan pernah kau sia-siakan.  Terlebih ketulusannya menerimamu dengan apa dan adanya adalah sesempurna wujud cinta yang mengajarimu banyak hal.

Maka, betapa bahagiamu membuncah ketika dua pria itu berjabat tangan erat, saling menyebutkan nama dengan senyum tulus persahabatan. Kami berbincang tentang hari ini dan hari depan. Tak sedikit pun masa lalu kami bicarakan, karena sepertinya masing-masing kami mempunyai tekad yang sama ; membuka lembaran baru, dengan cerita baru.

Kami berpisah dengan saling bertukar kartu nama. Saling berjanji untuk mengunjungi, bersilaturahim dalam bingkai persahabatan yang abadi.

***

Hari terus berlalu. Minggu berganti bulan, dan sebuah pesan email masuk ke handphone pintarmu ;

Assalamu’alaikum,

Semoga Allah SWT selalu mencurahkan segala rahmat dan kasihNya kepadamu dan keluarga kecilmu dengan kebahagiaan yang tak pernah surut.

Aku berniat memberikan hadiah satu perusahan untuk putramu dan semoga kau tidak keberatan mengijinkanku. Satu kali ini saja, agar setidaknya aku pernah berbuat sesuatu untuknya. Kulihat dia layak menjalankannya karena kapabilitas kepemimpinan dan kualitas pribadinya jauh dari kata mencukupi. Pastilah karena bimbingan wanita hebat sepertimu. Dan ayah yang sempurna seperti pendampingmu.

Semoga kau dan pangeranmu mengijinkanku untuk sekali saja menebus kesalahanku. Meski itu tak kan pernah dapat membayar semua dosa-dosaku.

Kutunggu keputusanmu dalam waktu dekat.

Wa’alaikumsalam Wr.Wb.

Dan surat elektronik itu telah membuka cerita baru dalam hidup putramu. Ia kini menjadi seorang pengusaha muda tanpa pernah ia rencanakan. Dan dengan bimbingan ayah kandungnya, ia mampu menjadi nahkoda hebat sebagaimana yang diprediksikan.

Mungkinkah ini caranya untuk dapat terus berinteraksi dengan buah hatinya? Agar ia dapat lebih sering bertemu tanpa harus mencari alasan yang dibuat-buat? Entahlah. Tapi cerita hari itu memang membuat hari-hari dua generasi itu diliputi bahagia dengan tanpa mengusik kebahagiaan dia yang berada di sampingmu, mungkin inilah caraNya menjawab kesabaranmu. Menjawab doa-doa yang sampai pada arsy-Nya.

***

Tahun telah berganti lima kali semenjak pertemuan di kedai kopi kenangan itu. Kedai kopi yang telah mempertemukanmu dengan sosok pria yang tak pernah pergi dari hatimu. Dan di semesta yang cair ini, semuanya bisa mengalir tanpa kita tahu kemana arah alirannya. Di dunia yang fana ini, keabadian tak pernah ada.

Ayah kandung putramu kini mendapat giliran ujian hidup maha berat yang pernah ada. Istri dan anak-anaknya meninggalkannya karena merasa perhatian yang ia berikan pada keluarga tak sebanding dengan perhatiannya pada putramu. Putra kalian tepatnya. Penjelasan tentang penebusan dosa, kasih sayang yang tertunda dan segala macam tak mempan di mata mereka. Bagi mereka, apa pun yang dilakukan adalah keliru, bahkan salah. Dan entahlah, pertikaian apa yang terjadi hingga perpisahan itu terjadi. Sebagian hartanya telah ia berikan pada keluarganya, dan ia berpikir dengan 2 perusahaan saja yang ia kelola, ia akan mampu bertahan hidup dan melanjutkan dengan sisa-sisa tenaga tuanya.

Wanita itu memilih menghabiskan masa tuanya bersama kedua putrinya. Dan ia memutuskan untuk hidup sendiri dalam sebuah rumah bersama supir dan keluarganya. Hidup yang aneh mungkin di mata orang lain, tapi adalah pilihan terbaik untuknya hari ini.

Dan ujian itu belum berakhir. Dia jatuh sakit stroke. Supir itu menghubungi putramu untuk memberikan pertolongan segera. Penyumbatan pada syaraf di kepala harus segera ditangani. Maka malam itu juga sebuah pembedahan dilakukan. Tanpa kehadiran mereka, mantan wanita dan juga kedua putri mereka. Mereka baru hadir sehari setelah operasi dilakukan, dan terlihat mereka memperlakukan sebagaimana membesuk orang lain. Sepertinya rasa kesal, dan sakit hati belum juga terobati. Sepertinya mereka belum bisa memaafkan mantan suami dan ayahnya.

Paska operasi itu, ia lebih banyak diam di rumah bersama orang-orang asing yang merawat dengan pengabdian. Semoga bukan karena imbalan perbulan yang menjadi penghidupan keluarga supir itu. Tapi adalah bentuk kasih sayang pada keluarga baru yang memang layak untuk diperlakukan dengan sepenuh kelembutan dan kesabaran. Dengan sepenuh tulus perhatian.

Dua perusahaan yang belum sempat sempurna berjalan regenerasi itu kemudian karam diterjang badai ketika sang nahkoda terkapar. Hutang-hutang dari bank perlu segera dilunasi, sementara omset penjualan semakin menukik turun tanpa terkendali. Maka tak ada pilihan lain kecuali, menjual perusahaan dan asetnya ke pihak lain, untuk membayar hutang-hutang perusahaan. Dalam hatinya hanya satu pinta ; Ya Rabb, jangan pernah biarkan hamba mati dalam keadaan membawa hutang yang akan menuntut hamba di alam sana. Jalan terjal dan cobaan berat yang menimpa hari tuaku, semoga kau perkenankan menghapus dosa-dosaku yang menggunung ini. Matikan hamba dalam kebaikan terbaik.

***

Maha benar Allah beserta firmanNya. Jika Dia berkata “Jadilah, maka jadilah ia!” . Tak terbayang lelaki kuat yang kau cintai kini telah nyaris kehilangan semuanya. Jabatan, harta, keluarga, dalam kurun waktu yang cukup singkat saja.

Kau berusaha mengusir jauh pradugamu “Inikah caraNya membalas sebuah keburukan yang pernah diperbuat seorang manusia?” Batin lainmu berkata “Tidak!. Kau dan putramu telah memaafkan kesalahannya, jadi bukan itu rencanaNya. Pasti ini hanyalah sebuah peringatan bahwa untukNya semua adalah mudah. Mendatangkan anugerah dalam sekedipan mata, atau mengambil nikmat dengan sekedip pula. Kekayaan dan jabatan pun demikian halnya. Mereka dapat digulung dengan cepat jika Dia menghendakinya. Kesehatan yang menempel dalam raga adalah rizki terbaik yang kadang terlupa. Dan dalam semesta yang cair ini, teruslah mengikuti kehendakNya dengan ikhlas. Suka dan duka yang singgah dalam lembaran sejarah hanyalah soal rasa. Keyakinan pada cintaNya yang abadi dan harapan-harapan penghidupan layak  serta bahagia di kehidupan baru nanti adalah energi untuk setiap diri.”

Meski jika menuruti nurani kau akan sesering mungkin mengunjunginya, membawakan olahan dapurmu yang mungkin bisa menghadirkan rasa bahagia di hati pria itu, namun kau memilih untuk bersikap sewajarnya saja.

Kau tak pernah mengunjunginya tanpa pendampingmu berada bersamamu. Pun sekadar pesan singkat, tak pernah kau kirim tanpa sepengetahuan pendampingmu. Hanya untuk menjaga rasanya, menjaga hati yang tak pernah kau biarkan tergores, apalagi terluka.

Putramu pun terlihat membagi kasih sayang yang sepadan pada dua pria yang kini menjadi bagian hidupnya. Betapa bangga kau melihat sosok pemuda yang amat bijaksana itu tumbuh menjadi penyejuk hati bagi keluargamu.

Dan bagi pria yang kini semakin terbatasi geraknya karena pemulihan operasi itu memerlukan waktu yang tak sedikit,  pikiran-pikiran inilah yang muncul mengisi hari.

Aku bahagia dengan keadaanku hari ini. Telah Engkau ijinkan aku bertemu dan kembali menghadirkan putraku yang tak pernah kutahu bagaimana ia tumbuh adalah serupa memanen buah dari pohon yang bahkan tak kusirami. Dan kehadiran wanita tercantik yang pernah bertahta dalam hatiku sekali waktu adalah serupa angin segar yang Kau hembuskan, hingga aku ikhlas bilamana hari ini takdirMu membawaku ke ujung jalan. Kini cinta itu serupa rembulan yang bisa kunikmati keindahannya dari kejauhan. Tapi tak pernah terbersit sedikit pun untuk membawanya ke pangkuan. Cinta itu seperti sebutir bintang yang menawan. Tanpa pernah kuinginkan memetiknya tuk kubawa pulang. Cinta adalah anugerah, dan energi luar biasa yang ia beri mampu membuatku terus tersenyum meski badai telah memporak-porandakan kapalku. Akhirnya, cinta memang akan kembali pada tempatnya, dengan aneka bentuk dan rupa yang setiap orang memaknai dengan segenap pemahamannya.”

Maka biarlah perahu kehidupan itu terus melaju menuju muara waktu….

Laut biru,
Pasang surut gelombang,
Badai,
Keindahan yang terpancar dari matahari terbit dan tenggelam,
Serta ikan lumba-lumba yang berloncatan menari
Adalah warna-warni hidup yang terus kan kau nikmati
Dengan sepenuh kesyukuran pada Illahi Rabbi

Serial Wanita di Kaki Senja – Keping 6 (TAMAT)

Sumber Image : http://www.pinterest.com/pin/252412754085444521/

DW – 22 Desember 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s