(3) Sepucuk Suratmu

Elegi Esok Pagi

(3) Sepucuk Suratmu 

Hatiku terus mereka-reka, apa gerangan reaksi Rania membacanya? Kaget bercampur gembira-kah? Atau biasa saja dan lalu sekadar menyimpannya di antara tumpukan buku untuk kemudian terlupa membalasnya?

Dua minggu berlalu, dan aku masih rajin membuka kotak pos di depan asramaku sepulang kuliah. Memeriksa apakah ada surat yang kutunggu. Dan sungguh, sebuah kesimpulan lain kusepakati ; bahwa menunggu adalah pekerjaan yang amat menjenuhkan. Bahkan bisa menyiksa diri sendiri. Karena di saat tanpa daya seperti itu, hanya kemampuan membangun persepsi baiklah yang harus terus diperjuangkan. Orang menyebutnya ; menunggu dengan sabar.

Dan tentu saja mudah mengucapkan, tidak mudah menjalankan. Terlebih yang kutunggu ini jelas sebuah sinyal, apakah cita-cita masa depanku masih layak untuk kugenggam. Akankah energi cinta yang kumiliki mampu menjadi pemicu semangat dalam menjalani perjalananku di hari ini. Ataukah sebaliknya, menjadi bumerang, karena ternyata aku telah bertepuk sebelah tangan. Sebuah tragedi besar yang harus kupersiapkan.

Aku memang tidak mudah terbuka bercerita ke siapa saja tentang masalah-masalah yang kuhadapi. Rasanya seperti ‘ember bocor’ saja jika segala hal harus diumbar, terlebih perihal perasaan. Aku telah memutuskan bahwa perasaan ini hanya milik pribadi yang akan kunikmati sendiri. Sepahit apa pun nanti. Bercerita pada pemilik jiwa lebih utama, karena Dia tak pernah mempermalukan kita sedikit pun juga.

Malam ke 17 semenjak surat itu kulayangkan. Kuputuskan mengambil air wudhu di keheningan malam, berharap meredakan gemuruh hati. Mengumpulkan sisa-sisa harapan, dan kembali mengadu pada pemilik bintang-bintang.

“Ya Rabb, jika mungkin aku bisa melihat masa depanku sendiri, betapa ingin sedikit saja kusingkap rahasiaMu. Apakah dia adalah seseorang yang kelak akan kau jadikan teman mengarungi kehidupan ini? Akankah aku mampu menerima kenyataan jika ternyata dia yang telah menyita banyak waktu dan ruang dalam pikiranku selama ini tidak kau takdirkan untukku? Ya Allah, aku sudah melakukan satu upaya sederhana, semoga Engkau berbaik hati untuk memberikan segala yang kuperlu ; kekuatan, kesabaran, dan petunjuk jalan selalu…”

***

Sepucuk surat kutemukan bertengger di kotak surat esok sorenya. Kuyakinkan diri, bahwa memang namaku lah yang tertulis di sana. Di balik surat tertulis nama yang amat kukenal, nama yang hampir setiap detik menari dalam ingatan ; Raina Ikhsan.

Aku nyaris lompat kegirangan demi menemukannya. Kuselipkan di salah satu saku tas ranselku, kurencanakan membaca nanti setelah selesai bebersih. Aku ingin membiasakan membaca surat dalam kondisi terbaik, dalam situasi yang tenang. Agar pesan yang dikirimkan bisa kucerna dengan baik sesuai maksud si pengirim. Sebagaimana selayaknya kusambut tamu dengan etika dan tatanan, bukan memperlakukannya dengan “serampangan.”

***

Segelas air putih menjadi temanku menggunting ujung amplop putih di tanganku. Dan secara seksama kubaca deretan kata yang rapi tertulis di sana.

Mas Tyo yang baik,

Terimakasih untuk suratnya. Makasih untuk semangat juga. Senaaaang sekali bacanya. Ga nyangka aja kakakku masih mengingatku di sini.

Iya, mungkin garis takdirku bukan di Jakarta, tapi di kota Solo ini, Mas. Aku yakin banyak rencanaNya yang lebih baik untukku di hari depan sana. Memang seseorang kuliah di mana, belajar apa, yang kutahu adalah sekadar media untuk kita belajar memperluas wawasan dalam mencapai kematangan jiwa. Aku harus mulai meyakini kalimat yang awalnya hanya kubaca sepintas saja tersebut.

Pakde dan Bude Sardi amat baik. Di sini aku seperti menemukan keluarga baru. Dan di sini juga, aku mendapatkan banyak hal diluar ilmu yang diajarkan di bangku kuliah. Adalah tentang bagaimana memilih jalan menjadi seorang wirausaha seperti mereka. Usaha batik yang kelihatannya, aku bisa jatuh cinta pada profesi itu. Segala hal terkait batik sungguh menarik.

Aku melihat bagaimana proses membatik itu yang menjadi suguhan sehari-hari. Kesabaran, ketelatenan, keuletan, kerja keras, yang bersenyawa mencipta sebuah maha karya berupa produk seni. Dan bukankah itulah nilai-nilai hidup yang semestinya kita miliki?  Kita butuh hal-hal tersebut untuk menjadi kekuatan mengarungi perjalanan hidup di masa mendatang.

Sekarang aku baru memahami, mengapa Pakde dan Budhe ku meski tak memiliki keturunan juga tetap bahagia menjalankan ‘peran’ mereka sehari-hari. Mereka sepertinya telah bersenyawa dengan pesan batik yang adalah juga menjadi lahan mereka menyemai benih usaha.

Aku mulai berpikir ; kenapa banyak orang yang belum atau tidak dititipi keturunan menganggapnya sebagai momok atau cobaan maha berat? Pemikiran yang jelas keliru. Allah menitipkan janin di perut para ibu adalah atas kehendakNya. Berapa banyak anak yang terlahir bahkan tanpa pengurusan optimal sebagaimana mestinya?

Seolah mereka harus ada di bumi, tapi perkara kecukupan hidup, kecukupan pendidikan, kecukupan bekal iman di dada bukanlah urusan utama? Anak adalah serupa harta titipan, yang kelak juga akan ditanya, dengan sedetil-detilnya, bagaimana kita merawat dan memberikan perlakuan yang diharapkanNya.

Wah, kenapa aku jadi melantur membahas kesana kemari ya Mas? Hahaha… rasanya kertas ini akan terus kutulisi dengan cerita yang terlalu banyak yang ingin kubagi. Tapi aku harus segera berkemas ke kampus. Hari ini salah satu mata kuliah adalah matematika. Aku jadi ingat kalimat-kalimatmu : “Kalau sebuah pelajaran dijadikan sahabat, dan kita sedia mencari cara mendekati sahabat kita itu, maka semuanya menjadi mudah. Kita akan menyadari, bahwa sesungguhnya yang dibilang orang itu sulit, ternyata tidak sesulit yang kita duga.”

Okeiii, aku tunggu cerita berikutnya darimu Mas Tyo,… Semoga dengan cara begini, kita bisa saling bertukar informasi, dan menjadikan hari-hari kita lebih mudah. Sebagaimana soal matematika tadi ya…hehehe..

Salam,

Rania

Hatiku ploooooong membacanya. Terasa langkahku menjadi ringan seketika, bebanku luruh satu per satu. Aku bergumam ; “Ya Allah, terimakasih telah menjawab pintaku. Entah apa yang terjadi nanti, yang jelas terimakasih untuk gumpalan awan bahagia yang menaungi langitku hari ini..”

Rania. Tak kusangka sedemikian cepat ia belajar mencerna semua yang ada. Demikian jernih kalimatnya terbaca di kepalaku.  Semakin bulat hatiku bertutur ; Ya, engkaulah pilihan hatiku. Semoga takdir berpihak pada asa yang kubalut dalam rangkaian doa-doa.

( Bersambung )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s