(4) Kisah Sedih di Hari Minggu

Elegi Esok Pagi

(4) Kisah Sedih di Hari Minggu

Sejak surat pertama Rania datang, bak sebuah kendaraan yang selesai di ‘tune-up’tubuhku terasa segar. Semangat belajarku kembali terdongkrak. Kuharap, aku mampu memperbaiki beberapa mata kuliah yang tahun lalu pas-pasan. Hal yang di atas kertas seharusnya mustahil terjadi untuk pemegang peringkat pertama kelulusan di SMA sepertiku. Namun entahlah, apa saja yang kemarin terjadi sehingga prestasiku merosot cukup tajam. Rasanya emosiku mudah terpancing oleh masalah-masalah kecil yang mestinya bisa sedikit kuredam jika saja aku mampu berpikir jernih.

Kini oase kehidupanku telah kembali kudapatkan. Sambil berkemas ke kampus lebih pagi, kuputar sebuah kaset. Arie Lasso, Misteri Illahi. Salah satu lagu favoritku. Kali ini, kububuhi imajinasi yang berbeda, karena kini misteri Illahi itu terasa telah tersingkap satu demi satu untukku..:D

Aku masih disini

Mendekap hampa di hati

Yang hingga kini menghantui

Tentang arti hidup ini

Waktu terus berputar

Tanpa bisa menawar

Manisnya segala sanjung puji

Menjadi pahit caci maki

Segala yang terjadi dalam hidupku ini

Adalah sebuah misteri illahi

Perihnya cobaan hanya ujian kehidupan

Lelah kaki melangkah

Tersesat tiada arah

Suara hati semakin lemah

Terkikis oleh amarah

Sesaat aku tersentak

Ingin rasanya ku teriak

Masihkah ada cinta tersisa

Untuk jiwa yang terlunta

***

Minggu berganti bulan, dan bulan hampir bertukar tahun. Surat-surat kami masih terus menari di udara, berbalas nyaris tanpa jeda, setiap dua minggu sekali. Meski isinya sekadar cerita harian, namun itu lebih dari cukup untukku saat ini. Sejenis rasa bahagia selalu tersaji di antara barisan kata yang tertulis di sana. Sepertinya Rania suka sekali dengan tinta warna biru. Dari goresannya, jelas ukuran pena skala 0,7mm, karena amat ramping terlihat mata. Mungkinkah dia pun sengaja mencipta ciri spesial yang bisa kutangkap indera? Entahlah. Semoga bukan GR ( gede rasa, red) ku saja.

Aku mulai bercerita tentang karib-karibku di sini  ; Togar, Joko, Adit, Anwar dan  Cecep.Berharap Rania juga terpancing untuk melakukan hal yang sama. Bukankah dengan demikian secara tak langsung aku bisa melihat peta kesehariannya secara utuh? Dengan siapa ia bergaul? Siapa sahabat-sahabatnya? Dan apakah ada satu di antara mereka yang ‘cukup membahayakan posisiku?”

Ah, selalu saja kekhawatiran menyelinap setiap kali pikiran itu melintas di kepalaku. Selama ini, semua surat-surat Rania terasa hangat, manis dan santun. Aku bisa membayangkan wajah ceria dengan mata beningnya setiap kali membaca goresan tangannya yang elok. Tapi sejauh ini, tak sepatah kata ‘cinta’ pun berani kusinggung di sana. “Jalanku masih panjang dan lebar, dan aku ingin menikmati masa muda dengan berbagai hal yang menyenangkan, kebebasan yang positif. Bebas menentukan arah dan berjalan ringan tanpa seseorang yang mengatur ini dan itu…..” Aku terngiang kalimat Rania yang disampaikan ketika SMA dulu di sebuah topik pembahasan hubungan dekat para remaja.  Sudah kubilang dia memang memiliki prinsip-prinsip yang berbeda dengan kebanyakan gadis desa lainnya.

Namun kini Rania bukan anak SMA lagi kan? Dia sudah menjelma menjadi seorang mahasiswi cantik yang amat cerdas. Bukankah perubahan di dunia ini terus bergulir? Benar surat-surat itu telah amat berarti selama ini. Tapi tetap saja batinku mendesak untuk bisa bertemu dengannya. Agar aku bisa meyakini bahwa dia masih di posisi menjaga kalimat yang pernah diucapkannya. Pun tak perlu kucari alasan kemana-mana karena sesungguhnya aku telah lama menyimpan rindu.

***

Liburan semester. Aku ingin memberi kejutan untuk Rania dengan ‘main’ ke rumah Pakde-nya di Solo. Kebetulan sekali Joko, sahabat sekampus dan seasramaku mengajakku pulang ke rumah orangtuanya di kota itu. Sudah beberapa kali sebenarnya ia memberikan tawaran itu sebelumnya. “Ayolah bro, mudik ke rumahku. Kamu belum pernah ke Tawangmangu kan? Kita bisa naik motor ke sana..”

Aku memang belum pernah ke lokasi wisata di sekitar Solo yang kabarnya amat menarik itu. Tepatnya di Lereng Gunung Lawu. Keindahan air terjun Grojogan Sewu baru kusaksikan di foto-foto internet saja. Jelas ada niat besar dalam hati untuk sempat mengunjunginya suatu ketika.

Namun kali ini dorongan terbesarku untuk menerima tawaran Joko adalah untuk menemui Rania. Dan ia segera tertawa seraya berujar ;.“Hahaha…. Kukira kau mau pacaran sama surat aja Bro! Bagus-bagus! Setidaknya kawanku ini sudah ada kemajuan keberanian! Hayuklah, kalau perlu kuanterin, aku siap. Paling ½ jam dari rumahku ke tempat gadismu itu…”

Aku tertawa menerima ledekan temanku. Pasrah saja. Mereka mungkin bosan mendengar nama Rania tanpa sadar sering kusebut dalam banyak perbincangan. Rania sepertinya menjadi judul cerita paling menarik sepanjang jaman. Duh, betapa lucu dan aneh cinta itu bekerja!

***

Bersama Joko, kutemukan tempat tinggal Rania. Minggu pagi, seharusnya dia ada di rumah. Sebelumnya Rania cerita kalau mau menengok orang tuanya hari Rabu mendatang. Jadi kalkulasiku tidak akan meleset.

Pintu rumah Pakdenya telah terbuka lebar. Ada dua motor lain yang telah terparkir di halaman rumah yang cukup luas itu. Sekilas kedatangan kami disambut pemandangan taman bunga tertata asri. Rumput jepang apik membentuk berbagai pola di sana sini. Dan nusa indah berwarna merah jambu seperti memamerkan seluruh bunganya ke permukaan. Bunga yang bentuknya menyerupai daun itu menyuguhkan aroma kehangatan si pemilik rumahnya. Pantaslah sebagai kediaman seorang pengusaha batik yang cukup terkenal di kota itu.

Salam yang kami ucapkan segera dibalas dari dalam ; “ Waalaikumsalam….. Mas Tyo??? Wah kejutan besar hari ini. Kapan datang? Kok ga kabar-kabar?? Hayo, mari silakan masuk…”

Benar saja, Rania sepertinya kaget sekali menerima kedatanganku hari itu. Sepintas kulihat wajahnya memerah. Aku belum sempat menebak ‘rahasia hati’ gadis itu.

Dua pemuda turut berdiri menyambut kami. Sejenak berjabat tangan, sambil mengucapkan nama masing-masing diri. Berkenalan. Sepuluh menit pertama menjadi ajang basa-basi. Rania pamit ke belakang, sepertinya bergegas menyiapkan dua cangkir teh untuk kami.

Segera kutahu siapa dua pemuda yang duduk berhadapan dengan kami. Keduanya adalah sahabat Rania. Firman dan Wisnu, dua orang mahasiswa Fakultas Hukum UGM, Yogyakarta. Semester genap tingkat dua. Artinya seusia denganku.

Astaga. Siapa pula mereka ini? Kenapa Rania tak pernah menyebut kedua nama itu di surat-suratnya? Lalu kenapa juga jauh-jauh dari Jogja ia bertandang sepagi ini ke rumah ini? Duh, hanya butuh beberapa menit untuk sebuah rasa kesal, gundah, marah, bingung dan sedih teraduk dalam hati dan pikiranku. Tuhanku, inikah rasanya cemburu??

( Bersambung)

Tulisan Sebelumnya :

Alasan Terindah (1)

Surat Pertama (2)

Sepucuk Suratmu (3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s