Elegi Esok Pagi ( Tamat )

Sebagaimana cuaca pada hari yang terus bergulir, betapa mudahnya warna hati berganti rupa. Ketika pagi bahagia meraja,bisa jadi siang sedih dan nelangsa turut mewarna. Demikian juga ketika tanpa kuduga siang ini terasa ada bergumpal-gumpal awan kelabu tiba-tiba memenuhi langitku.

Kuhempaskan tubuh dalam boncengan sepeda motor sahabatku sekenanya. Jujur saja, sepulang dari tempat Rania, aku kehilangan selera untuk meneruskan perjalanan ke obyek wisata Grojokan Sewu sebagaimana rencana semula. Namun demi mengingat Joko yang sudah berbaik hati mengantarkanku ke sana, aku tidak tega untuk membatalkannya di tengah jalan.

Firman dan Wisnu. Ingatanku masih belum beranjak dari kedua pemuda itu. Dalam waktu sekitar 40 menit keberadaanku di sana, tanda tanya besar pemuda yang kami jumpai di tempat Rania terjawab sudah. Mereka adalah teman baru Rania yang dikenalnya dalam sebuah Sebuah Pelatihan Wirausaha Muda dua pekan lalu. Sebuah pelatihan bertema Wirausaha Muda yang diprakarsai oleh sebuah perusahaan dalam menjalankan CSR ( Corporate Social Responsibily ) mereka.

Kedatangan keduanya adalah dalam rangka mengajukan kerjasama pemasaran produk-produk batik usaha milik Pakde Sardi. Memang Rania pernah bercerita di salah satu suratnya, bahwa Pakde dan Bude-nya mulai melibatkannya dalam berbagai hal terkait pekerjaan. Termasuk menangani berbagai kerjasama yang terus dijalin dengan banyak pihak baik klien maupun para rekanannya.

Ah, bukankah sejuta cara amat mudah untukNya sebagai sebab-akibat terjadinya sebuah pertemuan anak manusia di bumi ini? Pertemuan bisa tercipta di mana saja ; di bis kota, kereta, halte, pusat perbelajaan, toko buku, rumah sakit, pesta pernikahan kerabat, atau pengajian dan seterusnya? Pertanyaanku terbaruku kini ; Kiranya apa yang ingin Engkau perlihatkan padaku hari ini ya Tuhan?

Batinku mulai gemuruh oleh rasa ketidaknyamanan yang semakin menjadi.Sepanjang jalan menuju lokasi wisata aku banyak terdiam. Lintasan peristiwa yang baru saja kutemui berkelebatan di kepala tanpa mampu kubendung sedikit pun. Aku mencoba menarik kesimpulan dari setiap inci yang tertangkap oleh indera. Senyum manis dan suara renyah Rania ternyata tak hanya berlaku untukku saja. Tapi juga pada mereka, dua kenalan barunya. Hangat sambutan dan riuh kalimat-kalimat yang penuh energinya terbagi secara sempurna ke setiap orang yang di depannya.

Tak terbaca sedikit pun perlakuan istimewa untukku. Atau memang kedudukanku sama seperti orang-orang baru yang dikenalnya juga? Atau mestinya aku bersyukur melihat pembawaan gadis itu yang kian matang, mandiri dan makin mampu menjadi lawan yang seimbang untuk para teman diskusinya tanpa kecuali?

Dua pemuda itu masih meneruskan perbincangan seputar batik ketika kami pamit diri. Rania masih terlihat antusias menjelaskan batik yang bahan pewarnanya terbuat dari pewarna alami yang dihasilkan dari tumbuh-tumbuhan, aneka motif/corak yang terus dikembangkan oleh devisi R&D – Research and Development strategi pemasaran yang sudah dilakukan, dan berbagai tahap pengembangan lainnya.

Batinku berkata ; Rania, sungguh isi kepalamu semakin menambah pesonamu. Kelak kau adalah wanita yang akan mencetak generasi-generasi terdepan negeri ini. Mungkinkah mereka juga menyimpan asa yang sama denganku?

Firman yang berperawakan atletis, berwajah tampan dengan tutur bahasa yang terstruktur jelas amat menawan gadis mana pun yang mengenalnya. Wisnu, dengan raut wajah nan ganteng dan susunan gigi putih bersih serta rapi, berikut cara berkelakarnya yang segar, adalah daya pikat lain bagi para wanita di dunia. Dan perlu dicatat, keduanya adalah mahasiswa UGM, salah satu perguruan terbaik di negeri ini. Pun bukan mahasiswa kebanyakan pula, karena bahkan telah berpikir mencuri start’ merintis usaha dikala anak-anak lain masih bersantai ria atau sekadar berkutat dengan mata kuliahnya.”Gimana Bro… Sejuk kan udara di sini? Sekarang kita berada di ketinggian 1.200 dpl. Lihatlah!Betapa eksotis hutan lindung yang mengitarinya.

Monyet-monyet itu lucu sekali bukan?? Hati-hati, mereka bisa berbuat jahil pada pengunjung dengan merebut makanan, topi atau hp kita. Nanti kau juga bisa mengambil foto-foto air terjun dengan ketinggian 81 meter yang menakjubkan di atas sana. Kau akan segera tahu bahwa itu lebih indah dari yang pernah kau lihat di gambar kawan!hehehe…Ohya…sepulang dari sini, nanti kita bisa melihat sawah-sawah luas membentang yang ditanami sawi, wortel, lobak, strawberry, dan aneka hasil bumi lainnya di sebelah sana!. Petani di sini memang sangat rajin mengolah sawah ladangnya..Dulu aku seringkali mengunjungi tempat ini sekadar melepas penat atau jenuh Bro…”

Joko terus berceloteh bak seorang pemandu wisata tulen. Mungkin memang demikianlah seharusnya. Setiap putra daerah harus mampu menjadi agen wisata bagi daerahnya sendiri. Bukankah itulah salah satu cara sederhana sebagai bentuk kepedulian dan sumbangsih untuk tanah pusakanya? Ya, sektor pariwisata, adalah salah satu sumber pendapatan daerah dan sekaligus menjadi ‘ikon’ yang mengangkat citra suatu daerah tertentu. “Sssstt…Apalagi jika suatu hari kau bisa mengajak gadismu itu jalan-jalan ke sini,…Wah, pasti akan jadi salah satu momen terindahmu, kawan! Hahaha… Tapi hati-hati aja, gadis seteguh dia rasanya tidak akan mudah kau ajak-ajak pergi berduaan sebelum janur kuning melengkung dan nama kalian tertera di sebuah undangan warna biru! Hehehe“

Joko mengucapkan kalimat itu setengah berbisik. Sepertinya ia masih menjaga kalimatnya dari telinga-telinga yang tak cukup layak mendengar keisengannya itu.

Aku hanya menanggapi dengan senyum sekadarnya. Tak ada yang bisa membuatku tertawa dalam kondisi pikiran sekalut ini. Janur melengkung segala pakai dibahas! Kalimat Joko yang melantur kemana-mana hanya menambah gaduh rasaku saja. Indah panorama alam yang terhampardi depan mata pun tak mampu kunikmati dengan sempurna. Antusiasku rasanya telah jatuh berceceran di sepanjang jalan yang kulewati pagi ini. Joko rupanya cukup tanggap, sehingga ia pun berujar ;

“Iya eh iya.. Maaf-maaf kalau aku kebanyakan becanda! Aku tahu Bro…Kau lagi mikirin Rania kan? Sudah kuduga, kau pasti ‘jealous habis’ sama anak UGM itu kan?. Dan terlebih dalam posisimu yang tak berhak protes atau pun marah karena bahkan kalian masih berstatus ‘teman’? Sudahlah bro…! Sekarang kau harus bisa berpikir jernih. Itu baru dua orang yang kau lihat barusan. Belum tentu juga apa yang kau khawatirkan itu terjadi. Itu pertama. Keduanya, jodoh itu sudah diaturNya. Yang penting buatmu sekarang adalah, berbuat baik. Titik. Aku tahu otakmu encer, maaaan! Kalau prestasimu terus bagus hingga lulus nanti, Rania juga pasti akan ikut bangga. Pikirkan deh…! Kalau kamu ‘low-bate’ terus mulai menghancurkan diri sendiri secara ga jelas gini, apa kau masih punya muka untuk datengin dia? Coba deh nalar mana nalaaar!”

Sebenarnya mulutku hampir reflek mengumpat “Sok tahu kamu! atau…Bisa diam dulu ga Jok??” dan sederet sanggahan lainnya. Tapi diam-diam aku menyetujui nasehat ‘sok bijak’ nya. Kusampaikan sok bijak karena masih lekat dalam ingatanku kisah setahunan lalu. Ketika Joko uring-uringan selepas patah hati, hingga berat badannya turun drastis 5kg hanya dalam jangka dua bulan saja. Kabarnya hubungan jarak jauh Jakarta – Surabaya dengan gadisnya akhirnya kandas di tengah jalan karena berbagai sebab. Salah satunya adalah ketidak adanya saling percaya di antara mereka.

Dalam hati aku bergumam ; Akankah kami berpisah bahkan tanpa seuntai kata perpisahan pada akhirnya? Tidak! Namun sederet kalimat Joko perlahan mulai kucerna, sedikit demi sedikit memberikan efek rasa tenang. “Ya kalau aku boleh kasih saran sih ya ; ada baiknya kau langsung saja sodorkan proposal masa depan di kepalamu itu!. Kita sudah mulai tumbuh dewasa. Rania juga. Tidak ada salahnya kau coba. Sekarang gagal, besok kau bisa coba lagi. Atau setidaknya kau sudah bisa mempersiapkan ‘peti matimu’ sendiri meski pilihan buruk itu aku yakin tidak akan pernah kau ambil, kawan. Kau lebih paham soal tuntunan agama ini lah daripada aku….”

Menyodorkan proposal sekarang? Tidakkah terlalu buru-buru sementara aku masih setahun lagi menyelesaikan study-ku? Tapi ide brilian juga tampaknya!. Mungkin inilah jalan terbaik itu. Aku tidak bisa terus menerus menggantungkan angan kosong pada lembaran-lembaran surat yang berhamburan setiap dua pekan.

Setidaknya, aku harus tahu apakah Rania juga menyimpan perasaan yang sama denganku? Apakah Dia sedia kuajak serta berkemas mempersiapkan sebuah pelayaran berdua denganku setidaknya 2-3 tahun mendatang? Ataukah sebenarnya dia menyayangiku tak lebih dari seorang adik pada kakaknya?

Aku harus memberanikan diri menyampaikannya sebelum aku kembali ke Jakarta. Ya, Rabu depan dia akan pulang ke rumah orangtuanya di desa. Aku harus menemuinya! Aku harus menemukan cara terbaik yang bisa kutempuhi!

***

Ayah Rania menyambutku dengan hangat. Setelah beberapa saat bertanya kabar kuliahku, beliau memanggil putrinya yang mungkin tengah membantu ibunya di dapur ; “Nduk, kemari….. ini lho, ada Nak Prasetyo datang…!”

Tak berapa lama wajah yang selalu ceria itu menyambut kehadiranku pagi itu. Dan seperti memberi kesempatan kami berbincang dengan leluasa, ayah Rania pamit keluar meneruskan kesibukan menggergaji kayu di halaman. Entah membuat benda prakarya apa lagi, karena kudengar ayah Rania sering membuat alat-alat peraga mengajar untuk membantu para muridnya memahami pelajaran dengan lebih baik. Beliau memang seorang guru yang kreatif dan berdedikasi tinggi.

Lima belas menit pertama terisi obrolan ringan.Sepertinya cerita tak pernah ada habisnya setiap kali kami berjumpa. Hingga masuklah pada topik perbincangan masa depan. Kusampaikan dulu, ketika aku masih pelajar SMA, membayangkan menjadi pegawai negeri bergaji tetap adalah sebuah pencapaian tertinggi. Dulu, aku berpersepsi bahwa menjadi pegawai perpajakan sebagaimana jurusan yang mengarahkanku ke sana adalah sebuah cita-cita ideal. Ketika itu, belum terbaca olehku masalah-masalah makro yang terjadi di negeri ini. Belum mengerti, betapa menjadi pegawai negeri itu pun diperlukan tekad yang bulat untuk benar-benar mengabdi dengan serangkaian kendala di lapangan di sana sini.

Aku siap membeberkan sebuah kesaksian. Sebuah cerita yang mungkin cukup berguna untuk memperlihatkan visi dan misi hidupku di hadapan gadis itu.

“Seorang kakak angkatanku yang sebelumnya bertugas di salah satu Kantor Pajak di Jakarta dimutasi ke daerah pedalaman Kalimantan. Aku mengenalnya sebagai pribadi yang jujur dan memegang teguh prinsip hidup dan keyakinan. Ia banyak cerita tentang nilai-nilai hidup yang ditanamkan orangtuanya yang sebenarnya juga dari sebuah keluarga petani kebanyakan.Dia bilang, setiap hari Jumat, amplop berisi uang selalu saja ada yang menaruhnya di atas meja kantornya. Mereka menyebutnya ‘amplop Jumat’, yang dia yakini adalah pemberian klien yang dibantu diringankan beban pajaknya. Sebagaimana rahasia umum, bahwa perusahaan-perusahaan pengemplang pajak lebih memilih melakukan ‘negoisasi’ dengan ‘oknum’ petugas pajak. Misal, seharusnya tagihan pajak yang dibayarkan adalah Rp. 1 miliar. Maka, mereka lebih memilih membayar tunai ke para ‘oknum’ tersebut hanya dengan seratus dua ratus juta saja. Dan hanya bilangan puluhan juta yang disetorkan ke Kas Negara. Dengan apa mereka melakukannya? Dengan berbagai rekayasa laporan tentu saja.Mungkin bagi para ‘oknum’ dan para pihak yang merasa diuntungkan, itu dianggap sebagai rizki, karena pemberian. Toh mereka tidak meminta bukan? Sebagiannya juga meminta terang-terangan, karena menganggap layak untuk memeras balik perusahaan-perusahaan asing di negeri ini.Tapi tidak demikian dengan kakak kelasku. Ia menggunakan nalar dan nurani dalam setiap hal hingga ia bisa melihat bahwa itu bukanlah rizki yang layak untuk masuk ke dalam darah daging dan keluarganya. Ia tidak tergoda sedikitpun untuk mendapatkan kekayaan sebagaimana yang dilakukan beberapa ‘oknum’ itu.Amplop itu tidak pernah dia bawa pulang. Pun tak pernah ia sumbangkan kepada pihak lain. Karena sebuah keyakinan bahwa ; seseorang akan ditanya, darimana ia mendapatkan harta, dan kemana membelanjakannya. Inpun maupun output, keduanya sama bobot timbangannya. Tidak mungkin sesuatu yang abu-abu atau bahkan hitam dimasukkan ke dalam putih karena jelas apa hasilnya. Dan sebutir zarrah amal saja tidak akan pernah terlewat dari bilanganNya.Akhirnya dia dimutasi jauh di pedalaman Kalimantan, karena banyak pihak yang tidak suka dengan prinsip hidupnya. Sok suci telah menjadi label yang disematkan atasannya langsung. Tapi hatinya teguh bak batu karang di lautan. Dan kau tahu? Sebagai pegawai negeri di era 1997an ini, seseorang perlu mempunyai kekuatan mental yang amat besar karena gaji yang diperoleh memang pas-pasan. Hidup bersahaja menjadi pilihannya. Konon, istrinya yang juga wanita pilihan itu menjalankan usaha toko busana muslim. Allah memberikan rizki dari pintu yang tak disangka-sangka, sehingga usaha itu maju pesat. Dan mereka hidup lebih dari kecukupan di hari ini. Berharap di masa mendatang terjadi perubahan menuju Indonesia yang lebih baik, sehingga citra pegawai pajak pun bisa lebih baik.Kesimpulannnya, aku pun mulai harus menimbang-nimbang dan merencanakan plan A, plan B. Apakah setelah masa ikatan dinas selesai, aku akan ‘banting stir’ dengan bekerja di perusahaan swasta atau pun mendirikan usaha konsultan pajak. Ataukah aku harus siap menghadapi problem-problem ruwet yang lebih memusingkan daripada pelajaran rumit di bangku sekolah. Semoga pada saatnya nanti aku harus memasuki dunia kerja, sistem ketatanegaraan di Republik ini sudah bergulir ke arah yang lebih bersih, lebih berpihak pada para SDM yang berprestasi, dst..”

Rania takzim menyimak setiap kalimatku. Beberapa kali ia menarik nafas daam dan lalu menghembuskannya perlahan. Dia seperti mendengarkan dongeng 1001 malam yang terlalu menarik untuk dilewatkan.

Hening sejenak mengisi ruang kami. Masing-masing seperti tenggelam dalam pikiran sendiri. Secangkir teh manis yang sudah mulai dingin kuteguk beberapa kali. Membasahi tenggorokan, dan setelah kubuka dengan berbagi pikiran-pikiran terkait hidupku, aku siap untuk melakukan tujuan utama kedatanganku hari itu. Sambil menatap mata gadis itu dengan lekat, kukeluarkan sebuah buku Diary baru yang ingin kuhadiahkan untuknya. Diary itu kuangsurkan hadapannya ;“Ran, besok sore aku harus berangkat lagi ke Jakarta. Ehm… makasih ya, selama ini surat-surat yang kau kirim sudah menjadi energi terbesarku. Ini ada sebuah Diary untukmu, semoga kau suka dan bisa menjadi temanmu juga🙂

Tengoklah secarik kertas yang terselip , kalau kau tidak keberatan, tolong kau baca sekarang!” Mungkin suaraku terdengar bergetar demi menahan berbagai perasaan ; segan, malu, khawatir, bahagia, dan deg-degan yang tak mampu sempurna kuredam.

Selembar surat yang sengaja kuberikan melalui tanganku sendiri, dan berharap Rania bisa membacanya langsung di hadapanku. Sebuah media yang telah kupertimbangkan masak-masak untuk mengungkapkan segenap rasa dan impianku. Bukankah seringkali tulisan dapat mewakili ungkapan perasaan yang bahkan tak mampu terucap oleh lisan?

Dengan wajah merona kemerahan dan terlihat gugup ia mulai membaca barisan kata yang kususun di sana :

Teruntuk : Rania,

Mulanya aku ingin menunda surat ini selama mungkin, karena ada rasa khawatir kau kemudian justru akan lari menjauh dariku setelah tahu apa yang terjadi.Sejak perkenalan pertama denganmu dulu, aku sudah menangkap jutaan getar halus dengan segala imaji keindahan yang tercipta setiap kali aku ingat kamu. Entahlah, sejak saat itu aku semakin tertarik untuk tahu lebih banyak tentang kehidupanmu, keluargamu, pikiran-pikiranmu, kesukaanmu, ketidaksukaanmu, dan semua hal tentangmu.Ada bahagia dan rasa nyaman tak terkira setiap kali kemudian aku berkesempatan di dekatmu.

Aku juga tak pernah belajar apa itu cinta, apa itu rindu. Tapi semakin jarak menjadi batas pemisah raga, semakin aku merasa kau begitu dekat. Sangat dekat Rania…. Hingga seolah ia turut mengalir dalam aliran darah dan nafasku. Dan kali ini, aku yakin bahwa aku tidak berlebihan dalam mendeskripsikannya.

Aku tahu Rania, jalanmu masih panjang dan lebar. Pun aku sepakat bahwa agama ini tidak membenarkan apa itu pacaran. Aku pun ingin bisa selalu menjaga benih cinta yang disemai di ladangku ini sebagai sebuah anugerah yang kujaga dengan selurus-lurus jalan yang diperkenankanNya.Setahun mendatang aku sudah akan lulus dan memasuki dunia kerja. Jadi kupikir tak ada salahnya jika aku mencoba membentangkan peta hidupku sendiri. Termasuk mengajukan proposal ini, pada wanita yang amat kuharapkan kelak sedia mendampingiku mengarungi luasnya samudera hidup di depan sana. Sedia berbagi dalam suka dan duka, dan saling menyempurnakan dalam peribadahan.

Dan hari ini aku beranikan diri untuk membagikan impian ini padamu. Katakanlah ini sebuah proposal masa depan, dan aku sangat mengharap bisa menerima jawabanmu agar tunai segala pertanyaan yang mengambang di langit-langit kamarku sepanjang siang dan malam. Jika tidak mungkin sekarang, kau bisa menundanya pekan depan Rania.

.Aku memang telah jatuh hati sejatuh-jatuhnya padamu..Kuingin rasa ini mampu terjaga hingga kita sama-sama tak mampu merasakan apa-apa lagi. Tapi jika garis takdirNya tak berpihak padaku, doakan aku menjadi pribadi yang tegar dan kuat, untuk terus melanjutkan perjalanan hari depan

Meski kutahu tidak akan mudah. Meski hari tidak akan pernah sama sebagaimana masa muda yang telah kuhabiskan dengan imaji terindah sebuah nama ; Rania Ikhsan.Yang adalah namamu.

Salam manis,

Prasetyo

***

Kulihat air mata bening menetes membasahi kertas di tangannya. Rania sejenak terdiam, tapi guratan bahagia tak dapat disembunyikan dari wajahnya yang bersih tanpa polesan make up sedikitpun. Perlahan ia melipat kertas itu dengan rapi. Kulihat ia menyimpannya kembali diantara lembaran buku Diary warna biru muda di hadapannya.

Segaris senyuman muncul di wajahnya. Dan dengan suara yang cukup terkendali, ia berujar cukup pelan namun tegas : “Bismillah…. Semoga aku bisa menjadi seperti harapanmu, Mas. InsyaAllah, berharap ada mentari pagi yang sama menemani kita memahat asa dalam tumpukan doa-do’a. Saling menyempurnakan dalam peribadahan, sebuah tawaran misi yang tak mungkin aku lewatkan…”Mataku terasa panas seketika. Ada bulir bening yang tak dapat kutahan mengembang, lalu satu dua tetes mengalir ke pipi. Kuseka cepat-cepat dengan selembar saputangan di kantong celana jinsku. Air mata memang diciptakan tanpa pernah sia-sia. Ia seolah teman akrab dan luapan ekspresi atas duka dan bahagia Meski sebagian manusia memilih menyalahgunakannya ; menjadi pemanis sandiwara belaka.***

Senja nan indah mengantarkanku menaiki bis malam langganan. Sore itu langkahku terasa ringan kembali ke ibukota. Hatiku dipenuhi bunga yang tumbuh bermekaran. Semangat hidupku rasanya berada di titik tertinggi hari itu. Mataku asyik menikmati pemandangan dari balik jendela yang terus berganti-ganti seiring laju kendaraan. Dan co-pilot bis malam seakan tahu ada salah satu penumpangnya yang tengah sibuk menikmati bahagia demi mengingat seseorang yang amat spesial. Ia benar-benar menyempurnakan imajinasi terindahku malam itu dengan memutar sebuah lagu lama yang selalu adem di telingaku ; Ebiet G Ade – Elegi Esok Pagi

Ref..

Izinkanlah aku kenang sejenak perjalanan oh oh oh oh…
Dan biarkan kumengerti
Apa yang tersimpan dimatamu oh oh…….
Barangkali di tengah telaga
Ada tersisa butiran cinta
Dan semoga kerinduan ini
Bukan jadi mimpi di atas mimpi
Izinkanlah aku rindu pada hitam rambutmu oh oh oh oh……
Dan biarkan ku bernyanyi
Demi hati yang risau ini oh oh…..

Tidurku terasa nyenyak. Sebutir bintang dalam mimpiku telah kugenggam sangat erat. Kujadikan ia sebagai lentera dalam sepanjang waktu mendatang. Kubiarkan cahayanya tetap abadi di dalam pikir dan rasaku. Hingga embun pagi kan menyapaku mengisyaratkan sebuah pesan; bahwa mulai hari ini, perjuangan baru mewujudkan mengejar impian yang telah kubentangkan.

*** TAMAT***
Tulisan Sebelumnya :

Alasan Terindah (1)

Surat Pertama (2)

Sepucuk Suratmu (3)

Kisah Sedih di Hari Minggu (4)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s